adar atau tidak, seseorang kemudian menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari iklan sebagai konsumen atau sasaran iklan,
sebagai media iklan, atau bahkan sebagai pengiklan walaupun ia tidak
punya produk barang atau jasa yang ditawarkan, walaupun juga tidak ada
keuntungan baginya. Pendek kata, iklan bukan lagi merupakan suguhan yang
boleh dicernak secara selektif, tetapi suguhan yang merebut setiap
kesempatan dan ruang yang ada dalam kehidupan manusia modern.
Pemasang iklan hadir dengan keperluan agar produk,
jasa, atau imbauan-imbauannya dapat sampai ke sasaran iklan secara
efektif, yaitu tidak saja agar mereka membaca, mendengar, memahami,
tetapi juga agar mereka mengkonsumsi atau melakukan aksi tertentu yang
dikehendaki. Banyak pembuat iklan yang tidak peduli terhadap apa
yang diiklankan sebab mereka hadir dengan tujuannya sendiri, yaitu
memproduksi iklan yang memuaskan pemesan iklan.
Hal ini tidak berarti bahwa biro iklan tidak punya
pengetahuan tentang konsumen – sesungguhnya bahkan ada biro iklan yang
amat bertanggung jawab pada masyarakat sehingga berani menolak membuat
iklan-iklan tertentu – tetapi pengetahuannya tentang selera konsumen
hanya merupakan faktor pendukung saja dalam memproduksi iklan.
Iklan sendiri – baik iklan yang komersial, nonkomersial, maupun iklan
korporasi –pada dasarnya adalah satu bentuk wacana direktif atau
imperatif yang tertuang dalam bahasa audio, visual, dan verbal.
Sebagai mana komunikasi yang efektif, iklan yang
efektif harus mampu membangun persepsi masyarakat konsumen menjadi
seperti yang dikehendaki pemasang dan pembuat iklan, yaitu bahwa
menggunakan barang dan jasa yang diiklankan atau melakukan aksi seperti
yang dimbau dalam iklan akan mendatangkan sangat banyak manfaat kepada
konsumen dan juga masyarakat secara umum. Iklan seperti itu umumnya ditujukan kepada konsumen
yang telah mempunyai kematangan analisis sehingga makna imperatif dari
iklan itu dapat dibangun sendiri dengan mengembangkan hubungan
kausalitas dari fakta yang diuraikan dalam iklan.
Dalam setiap iklan, memunculkan unsur pengingat
(catcher) baik yang berupa suara (audio), gambar (visual), maupun
bahasa (verbal) menjadi amat penting sehingga suatu saat, dengan hanya
mendengar, melihat, atau membaca pengingat itu, konsumen langsung
terhubung dengan produk yang diiklankan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar